
Laporan Training Fasilitator Lokal “Food Heroes”
Latar Belakang
Program food for the future yang adalah sebuah program yang dilaksanakan oleh Yayasan Flores Bumi Lestari sebagai upaya melestarikan dan menjaga keberlanjutan budaya pangan lokal di Ende. Program ini didukung oleh Daughter for Earth.
Pangan lokal adalah identitas budaya bukan hanya makanan, tetapi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Lio Ende.
Setiap jenis pangan selalu terlibat dalam ritual adat dan aktivitas kehidupan sehari-hari,menciptakan ikatan yang kuat dengan tradisi.
Keanekaragaman Sumber Pangan:Tumbuh di ladang kering,perkebunan Ditemukan di sepanjang daerah aliran sungai, mata air, Berasal dari hutan dan pinggiran pantai Ditanam di halaman rumah
Ciri Khas Pengolahan: Setiap bahan pangan memiliki cara pengolahan unik yang diwariskan turun-temurun, menciptakan cita rasa yang khas.Pasar Tradisional: Keanekaragaman pangan lokal dapat dengan mudah ditemukan dipasar-pasar tradisional, yang menyajikan bahan makanan segar dan autentik.
Tujuan pendokumentasian pangan lokal adalah : mempelajari manfaat kesehatan dan keberlanjutan dari tanaman pangan lokal, menjaga cara pengolahan yang tradisional (resep otentik), melestarikan budaya dan alam, membekali generasi muda dengan pengetahuan yang berguna. Literasi pangan lokal berkontribusi pada keberlanjutan sistem pangan, memastikan masa depan yang lebih sehat dan berkelanjutan serta memperkuat peran perempuan dan anak muda.
Untuk itu Yayasan Flores Bumi Lestari telah mengadakan pelatihan bagi fasilitator lokal Food Heroes. Dengan pengetahuan dan skill yang cukup mereka akan mampu melakukan proses pendokumentasian dengan baik dan terlibat penuh dalam project ini.
Tujuan
Training ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, pengetahuan serta skill para food heroes dalam :
- Pangan lokal dan manfaatnya serta pentingnya keterlibatan perempuan dan generasi muda
- Memahami teknik wawancara dan pendokumentasian yang efektif.
- Mempelajari berbagai masakan tradisional berbahan pangan lokal yang sehat dan bergizi serta mengumpulkan resep-resepnya
- Mengetahui lokasi-lokasi terbaik untuk menemukan dan mengenali berbagai jenis pangan lokal
- Mengenali tokoh-tokoh penting yang bisa dihubungi untuk menggali informasi dan cerita tentang pangan lokal
- Mampu menulis buku tentang pangan lokal sebagai hasil dokumentasi
Output :
- Dari hasil pre dan post test yang dilakukan : sebanyak 16 orang peserta yang meningkat pengetahuannya tentang pangan lokal, manfaat dan mampu menggunakan alat kaji PRA Kalender musim dan pemetaan
- Dari latihan menemukan jenis pangan, manfaat dan resep masakannya semua peserta mampu menulis dan menceritakan jenis pangan lokal di desanya beserta cara pengolahan dan manfaatnya
- Food Heroes melanjutkan proses pendokumentasian di Desa Timbazia dan Ondorea Barat sampai bulan Agustus 2025
Peserta : training ini diikuti oleh 19 orang peserta yang terdiridari : 3 orang laki-laki dan 16 orang perempuan
Waktu dan tempat : Training ini diselenggarakan pada tanggal 24 – 26 Juni 2025 di Rumah Bina PSE, Ende.
Fasilitator
Fasilitator Training ini adalah Ismi Ariniawati dan Maria Beribe dari Yayasan Flores Bumi Lestari
Proses Training :
Day 1 tanggal :
Training diawali dengan perkenalan. Sesie ini sangat penting agar semua peserta bisa berkenalan satu dengan yang lainnya sehingga terjadi interaksi dalam proses belajar agar dapat berjalan dengan baik dan lancar. Masing-masing peserta menyebutkan nama dan makanan favoritnya. Selanjutnya peserta diminta menulis ungkapan rasa syukurnya hari ini dan mengisinya dalam “Toples Rasa Syukur”.
Kontrak belajar : peserta menyepakati aturan main selama proses training berlangsung untuk ditaati bersama. Dibawah ini adalah hasil kesepakatan yang ditandatangani peserta.
Gambar kontrak belajar.
Selanjutnya pembagian tugas : masing-masing peserta memilih tugas untuk review, menjaga waktu, membuat game untuk menyegarkan suasana, kebersihan ruangan selama 3 hari training.
Gambar pembagian tugas peserta selama training
Pre dan post test : pre test untuk mengetahui pengetahuan awal peserta.Dan post test untuk mengetahui kemampuan akhir dari peserta setelah selesai training
Hasil pre dan post test dapat dilihat pada grafik di bawah ini yang menggambarkan bahwa telah terjadi peningkatan pengetahuan peserta training.
Day 2.
Kegiatan di awal hari kedua ini adalah menulis ungkapan rasa syukur dan mengisinya dalam Toples Rasa Syukur. Setiap awal hari adalah syukur atas segala kebaikan yang diberikan sang pencipta dan alam semesta bagi kita.
Sesi selanjutnya adalah latihan Mindfulness. Membangun pikiran berkesadaran peserta training agar meleburkan dirinya dalam proses training dan terlibat penuh kesadaran dan focus dalam training dan program ini. Sesie ini difasilitasi oleh Ismi Ariniawati. Setelah latihan midfullness peserta diminta untuk mengungkapkan perasaannya.
Gambar : Ismi sedang memandu peserta untuk latihan mindfulness
Pemetaan diri :
Tujuan dari sessie ini adalah peserta mampu mengidentifikasi kekuatan masing-masing dan sekaligus mengidentifikasi skill yang dimiliki yang bisa mereka kontribusikan untuk mencapai target dari program food for the future terutama dalam proses pendokumentasian. Masing-masing peserta diberi sticky notes untuk menulis kekuatan atau “jagonya” masing-masing serta skill apa yang bisa disumbangkan sebagai food heroes.
Gambar pohon potensi diri dapat dilihat dalam gambar berikut ini :
Gambar pohon potensi
Nonton Film : Terancam hilangnya Hipere salah satu pangan lokal di lembah Baliem Papua Pegunungan. Peserta diajak untuk menonton dan menyimak film tersebut dan setelahnya ada refleksi dari peserta tentang cerita Hipere dan kenyataan yang mereka alami.
Refleksi peserta : dalam Film tersebut umbi hipere yang merupakan pangan utama bagi masyarakat lembah Baliem. Selain itu hipere juga menjadi pakan ternak dan menu yang wajib ada dalam upacara adat. Hipere yang dikonsumsi sehari-hari dibakar atau direbus bahkan dalam tradisi bakar batu umbi hepere menjadi menu yang secara turun temurun disajikan bagi banyak orang. Saat ini hipere yang menjadi andalan masyarakat lembah Baliem terancam punah karena banyak yang sudah mengkonsumsi beras. Fenomena ini juga dialami oleh masyarakat di desa kami. Pada umumnya kami sudah banyak kehilangan pangan karena banyak lahan yang sudah ditanami dengan tanaman umur panjang. Kami sangat bergantung pada pasar.
Selanjutnya fasilitator memberikan penjelasan tentang peran food heroes sebagai berikut :
- Pendokumentasian (menemukenali dan mencatat aneka pangan lokal(tanaman, pangan laut, sungai, pangan dari hutan dan tumbuhan liar yang dikonsumsi)
- Pendokumentasian aneka resep pangan lokal (mencatat dan membuat fotonya)
- Kampanye pangan lokal di kelompok atau desanya
- Mempersiapkan suluh sehat
- Membuat kebun pangan
- Berpartisipasi dalam festival pangan
Materi : Teknik penggalian informasi dan pengambilan foto yang difasilitasi oleh Ismi Ariniawati.
Fasilitator memaparkan materi tentang pentingnya wawancara, tahapan dan teknik-teknik wawancara yang dilakukan dalam penggalian data dan informasi.
Gambar : Ismi sedang memaparkan materi tentang Teknik Wawancara dan Pengambilan Foto yang baik
Praktek pengambilan foto yang bagus.
Salah satu poin yang sangat penting dalam proses pendokumentasian adalah foto. Foto adalah dokumentasi yang penting sehingga para food heroes wajib memiliki skill yang memadai untuk membuat foto tanaman ataupun resep yang bagus. Para peserta diberi petunjuk tentang teknik pengambilan foto agar dapat menghasilkan gambar yang bagus dan proporsional. Ismi memberikan petunjuk dan mendampingi para peserta mempraktekkan cara pengambilan foto yang baik.
Kelompok peserta yang lain belajar tentang bagaimana menggunakan smartphone (goggle lens) untuk mengambil gambar dan identifikasi tanaman pangan yang tidak diketahui namanya. Peserta berjalan di sekitar halaman rumah Bina PSE dan langsung praktek.
Gambar : Teknik identifikasi tanaman menggunakan google lens
Materi pengenalan alat kaji pemetaan dan kalender musim yang difasilitasi oleh Maria Beribe.Peserta dibagi dalam 2 kelompok berdasarkan desa masing-masing yaitu desa Ondorea Barat dan Timbazia. Mereka diminta untuk membuat sketsa desa dan sebaran pangan lokal di setiap area yang sudah mereka gambarkan.
Gambar sketsa desa sebaran pangan lokal Desa Timbazia dan Tendarea
Day 3.
Seperti biasa peserta menulis ungkapan rasa syukurnya dan memasukkan dalam toples rasa syukur.
Peserta dibekali tentang pentingnya memahami dan menemukan aneka pangan di setiap musim dan bulan yang berbeda sepanjang tahun. Sesie ini membantu peserta untuk menggambarkan lingkaran kalender 12 bulan (Januari – Desember) dimana saat tanam dan saat panen. Dengan kalender musim membantu mereka untuk mengungkapkan apa yang mereka tanam dan apa saja yang mereka panen selama setahun.
Selanjutnya peserta menggambar kalender musim tanam dan musim panen aneka pangan yang ada di desa mereka masing-masing.
Gambar Kalender musim tanam dan panen pangan lokal Desa Timbazia dan Ondorea Barat
Gambar Presentasi dan saling berbagi cerita tentang gambaran desa, area sebaran keanegaraman hayati dan kalender musim tanam dan panen Desa Timbazia dan Ondorea Barat
Peserta dipandu untuk presentasi dan saling berbagi tentang gambaran umum desanya yang sudah tertuang dalam peta yang mereka gambarkan. Mereka juga saling berbagi informasi tentang musim mereka menanam dan memanen aneka pangan yang mereka butuhkan untuk konsumsi keluarga maupun untuk dijual ataupun untuk kepentingan ritual adat ataupun acara sosial lainnya.
Sesi berikutnya adalah bagaimana melakukan pencatatan data, informasi tentang berbagai jenis pangan lokal, di mana ditemukan dan berbagai resep masakan tradisional.
Untuk latihan, Peserta yang sudah mendapatkan Buku Catatan pangan lokal dipandu untuk mulai mengidentifikasi pangan yang mereka sudah kenal, bagian apa yang dimakan, di mana ditemukan dan cara pengolahannya. Melalui latihan ini peserta dibantu untuk lebih paham dan mampu melakukannya ketika sudah di lapangan.
Gambar contoh catatan peserta
Setelah latihan, masing-masing peserta diberi kesempatan untuk membagikan cerita tentang apa sudah dicatatnya.
- Anti, menemukan dan mengangkat uta reru/sayur paku/pakis. Anti sangat bersemangat menjelaskan tentang sayur pakis, bagaian yang dimakan adalah daun muda dan pucuknya. Biasa ditemukan dipinggir sungai atau sekitar mata air. Cara olahnya dibuat ngeta, disantan,
- Mensi : Biji tere. Biji dari buah tere diambil dan cuci bersih, dikeringkan lalu disangrai dan dikupas kulit arinya dan sudah siap dimakan.
- Nona Eni : Kerara/sukun. Bagian yang dimakan adalah buahnya. Cara pengolahannya dikukus, digoreng dan paling enak kalau dibakar
- Mama Nesta : ubi keladi. Mama nesta menanamnya di kebun. Diambil umbinya lalu dibersihkan dan dibuat kue yang dicampur dengan kelapa parut dan kacang tanah. Paling enak dan disukai anak-anaknya.
- Nona Karin : mengangkat Uta Lea, labu putih. Ini sayur favorit orang Ondorea Barat. Dan kekhasan dari uta lea ini adalah diolah sebagai sayur santan dengan bumbu lokal yang menambah cita rasa dan aroma. Lebih lengkap kalau dicampur dengan ikan panggang.
- Mama Avelin : Ubi kembu. Umbian liar yang dikonsumsi oleh warga desa Timbazia. Bagian umbi yang dikonsumsi. Berikut mama Avelin membagikan cerita dengan catatan yang dibuatnya.
Pengenalan alat kaji kecenderungan dan perubahan dan catatan sejarah desa
Alat ini membantu kita mengkaji kecenderungan dan perubahan situasi atau kondisi yang berhubungan dengan pertanian dan pangan, musim, pola konsumsi dan keanekaragaman pangan dalam kurun waktu 50 tahun terakhir.
Evaluasi pelatihan
Pelatihan diakhiri dengan post test dan juga feed back dari peserta tentang pelatihan food heroes ini.
- Aurel menyampaikan bahwa metode pelatihan dengan cara fasilitasi melibatkan peserta dalam setiap sesi training membuat mereka lebih percaya diri, mampu bekerjasama dalam tim, ada pembagian peran sangat menyenangkan dan tidak membuat bosan. Materi yang diberikan sangat ringan sehingga cepat diterima.
- Mama Nesta menyampaikan kesannya bahwa training ini sangat membantu mereka untuk mengingat dan mengenal kembali berbagai pangan lokal yang mereka miliki. Ini sangat sesuai dengan impian mama Nesta yang mau membudidayakan kembali berbagai pangan lokal di kebunnya.
- Mama Avelin, merasa senang karena semua peserta bisa membagi pengalaman dan cerita tentang pangan lokal, bahagia karena mengingat kembali bahan-bahan pangan lokal yang pernah ada di kampung mereka. Mama Avelin juga bersemangat dan bersedia untuk mencatat dan membagi informasi kepada anak-anaknya. Siap untuk mengolah makanan bagi keluarganya.
- Mensi merasa pelatihan ini sangat bermanfaat terutama bagaimana melakukan wawancara, siapa nara sumbernya dan bagaimana teknik membuat foto.
- Nona Karin : selama pembelajaran 3 hari ini sangat menyenangkan. Tidak terpaku pada ppt, berbagi cerita dan ide yang dituangkan dalam tulisan. Saya suka sesie mindfulness, yang melatih diri untuk bisa fokus karena kita sering tidak fokus dan terbagi-bagi. Senang karena ada saling berbagi tentang pangan lokal dan cara pengolahannya. Suasana yang akrab.
- Anti : training ini membuat saya sangat bahagia karena ada praktek dan bisa mengenal berbagai kacang-kacangan.
- Andrew : untuk kegiatan di lapangan lebih banyak di luar ruangan dan juga memperhatikan waktu-waktu yang tepat/sesuai dengan situasi di kampung.
- Rencana lanjutan kegiatan adalah proses pendokumentasian yang dilakukan di masing-masing desa selama bulan Juli sampai Agustus 2025. Dan persiapan workshop di Desa.
Penutup
Training Food Heroes telah dilakukan selama 3 hari. Training ini juga membangun kesadaran dan motivasi peserta untuk terlibat penuh dalam program Food For Future.
Terimakasih kepada Daughter for earth dan pemerintah desa Timbazia dan Ondorea Barat untuk dukungannya.