
Pelatihan “Food Heroes”: Merekam Jejak Pangan Lokal untuk Masa Depan Flores yang Berkelanjutan
Yayasan Flores Bumi Lestari baru saja menyelesaikan pelatihan “Food Heroes”, sebuah kegiatan yang menjadi bagian dari program Food for the Future—inisiatif pelestarian dan pemberdayaan berbasis pangan lokal yang didukung oleh Daughters for Earth. Program ini bertujuan untuk mendokumentasikan, memulihkan, dan mempromosikan kembali kekayaan pangan lokal masyarakat Lio Ende sebagai bagian dari upaya menciptakan sistem pangan yang berdaulat, sehat, dan berkelanjutan.
Mengapa Pangan Lokal Penting?
Di Ende, pangan bukan sekadar kebutuhan perut—ia adalah warisan, identitas, dan bagian dari ritual sosial dan spiritual masyarakat. Tumbuhan pangan tumbuh di ladang, di halaman rumah, di tepi sungai, hutan, dan pesisir. Setiap jenis pangan memiliki cara pengolahan yang khas, diwariskan lintas generasi, dan diperdagangkan secara aktif di pasar-pasar tradisional.
Namun, seperti umbi hipere di Lembah Baliem Papua yang hampir punah karena bergesernya konsumsi masyarakat ke beras, banyak pangan lokal di Flores juga mulai hilang dari meja makan. Masyarakat semakin bergantung pada pangan olahan dari pasar, dan lupa pada kekayaan pangan yang dulunya ditanam dan dikonsumsi secara mandiri. Inilah yang menjadi kegelisahan sekaligus pemicu lahirnya para Food Heroes.
Tujuan dan Proses Pelatihan
Pelatihan yang dilaksanakan pada 24–26 Juni 2025 di Rumah Bina PSE, Ende ini diikuti oleh 19 peserta dari Desa Timbazia dan Ondorea Barat. Dengan pendekatan partisipatif dan suasana yang hangat, peserta yang sebagian besar adalah perempuan, diajak untuk:
- Memahami pentingnya pangan lokal dan kaitannya dengan gizi keluarga serta sistem pangan berkelanjutan.
- Melatih teknik wawancara dan dokumentasi untuk mengangkat cerita pangan di desa.
- Mengenal dan mengolah masakan tradisional berbasis tanaman lokal.
- Menggunakan alat kaji seperti kalender musim dan pemetaan desa untuk melihat siklus tanam dan konsumsi pangan masyarakat.
- Menulis dan mencatat jenis pangan, manfaat, serta resepnya untuk dijadikan bahan buku pangan lokal.
Selama pelatihan, peserta juga dibekali teknik fotografi dasar dan penggunaan teknologi seperti Google Lens untuk mengenali tanaman liar yang belum dikenal. Mereka mempraktekkan langsung proses dokumentasi dengan cara yang sederhana namun berdampak: mengamati, mencatat, bertanya, dan memotret.
Kalender Musim dan Pohon Potensi
Salah satu pendekatan menarik yang digunakan dalam pelatihan ini adalah kalender musim, di mana peserta memetakan waktu tanam dan panen dalam setahun. Metode ini menggugah memori kolektif tentang pola pangan berbasis musim yang telah lama dipraktikkan oleh leluhur. Peserta juga membuat pohon potensi diri untuk mengenali kekuatan pribadi dan kontribusi yang bisa mereka berikan dalam tim dokumentasi dan pengarsipan.
Cerita dari Lapangan: Mengangkat yang Terlupakan
Peserta pelatihan mulai mendokumentasikan pangan lokal di desa masing-masing. Anti mengangkat kembali uta reru (sayur pakis), Mensi mencatat biji tere yang bisa dijadikan camilan sehat, dan Mama Avelin membagikan resep olahan ubi kembu—umbi liar yang mulai ditinggalkan. Mereka menyadari bahwa banyak bahan pangan lokal yang terlupakan padahal kaya nutrisi dan bisa menjadi alternatif pangan keluarga.
Membangun Kesadaran, Menumbuhkan Harapan
Lebih dari sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi. Ada latihan mindfulness, sesi rasa syukur setiap pagi, dan refleksi bersama setelah menonton film dokumenter tentang pangan. Semua itu memperkuat keterlibatan emosional peserta terhadap misi program ini.
Seperti yang disampaikan oleh Mama Nesta:
“Saya merasa training ini seperti panggilan untuk kembali ke akar. Saya ingin mulai lagi menanam pangan lokal di kebun saya.”
Dan dari Mensi, seorang peserta muda:
“Saya jadi tahu bagaimana teknik wawancara dan membuat dokumentasi yang baik. Sekarang saya lebih percaya diri.”
Langkah Berikutnya
Setelah pelatihan ini, para Food Heroes akan melanjutkan proses dokumentasi di lapangan sepanjang Juli–Agustus 2025. Hasil dokumentasi akan dikembangkan menjadi buku pangan lokal dan menjadi bagian penting dalam festival pangan yang direncanakan akhir tahun ini.
Kami percaya bahwa masa depan pangan dimulai dari akar rumput—dari kebun, dapur, dan cerita yang hidup di antara masyarakat. Terima kasih kami ucapkan kepada seluruh peserta, fasilitator, mitra dari Universitas Flores, pemerintah desa Timbazia dan Ondorea Barat, serta Daughters for Earth atas dukungan dan semangat kolaborasi yang luar biasa.
Mari kita terus bersama-sama mengangkat pangan lokal menjadi kebanggaan, bukan kenangan.